Rabu, 21 Maret 2012

Miss Them Friends

 Nangkring Bersama :p

Tadi saya bimbingan revisi skripsi. Hadoh hari gini masih ngurusi revisi skripsi? Bukannya sudah pakai toga dan memiliki gelar sarjana??? Ah... itu pasti yang tengah kalian pikirkan sekarang. Begini-begini untuk bisa mengambil ijazah, saya harus mendapatkan dua tanda tangan penguji dan dua tanda tangan pembimbing. Dan tentu saja untuk mendapatkan tanda tangan mereka saya harus melakukan revisi pada sikripsi saya.

Saya menunggu di lantai enam bersama beberapa teman kelas saya. Iya kelas B Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Hanya segelintir saja dan mereka yang wisuda februari kemarin. Kami menunggu Pak Gigit selesai mengajar. Benar saya sedang menanti untuk memperoleh tanda tangan pembimbing ke dua saya itu.

Satu menit... Dua menit... Satu jam....

Akhirnya Pak Gigit keluar dan memberi kode kepada kami untuk masuk ke ruang LMT. Baiklah kami masuk. Kami duduk di deretan kursi nomor dua. Ah... suasana LMT mengingatkan masa-masa kuliah saya. Mengingatkan saya dengan teman-teman sekelas yang sudah sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Eh, Devi menujukkan foto yang terpajang di dinding ruangan. Saya menoleh. Itu foto kelas kami saat mengikuti mata kuliah mikroticing.

Saya menatap foto itu lekat-lekat. Foto itu diambil oleh Pak Arif dosen mata kuliah mikroticing. Saya jadi kangen. Kangen kuliah bareng. Kangen ngerjain tugas kuliah dan selalu keburu-buru. Kangen duduk-duduk di tiga setengah. Yeah saya kangen mereka semua. Teman-teman kelas B yang selalu mendrama. Hahahaha.... saya mengambil istilah yang sering dipakai oleh Dini "mendrama".

Saya masih ingat. Dulu di lab ini kami pernah nonton video mesum rame-rame. Ahahahaha.... video itu sebenarnya biasa saja, rekaman tentang dua orang yang berpacaran. Tidak ada yang vulgar. Biasa saja. Tapi enggak tahu kenapa karena hal itu, hal yang dianggap sepele oleh teman-teman sekelas justru membawa kami ke persoalan besar. Iya kami satu kelas (khususnya yang menonton) dituduh turut menyebarkan video mesum dengan fasilitas kampus dan merusak nama kampus. Astaga, waktu itu kami hanya iseng. Dan sungguh kami sangat menyayangi kampus kami. Kami sangat cinta. Sangking cintanya kuliah saya molor sampai satu smester. hekekekek...

Tapi sungguh tak ada maksud apa-apa. Kami akan diskors selama satu semester. Huwaaa... itu membuat kami semua sangat panik. Kami memohon maaf pada pihak kampus. Menandatangani surat penyesalan dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu. Dan syukurnya pihak kampus berbaik hati untuk memaafkan kami.

Yah... yah... karena masalah itu kami menjadi semakin dekat. Kelas kami menjadi semakin solid. Dan sekarang saya sangat merindukan mereka. Teman-teman kelas B Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah  angkatan 2007, saya kangen kalian semuaaaaaaaa >_<


-yna-


Senin, 12 Maret 2012

Dia yang Tak Berhati




Seorang teman sebut saja X dia berhutang pada saya beberpa lembar uang. Dan itu sudah sangat sangat lama. Awalnya, saya nggak enak mau minta. Halah berapa sih, masih banyak juga kiriman uang dari orang tua saya. Iya saat itu (saat si X berhutang uang) saya masih kuliah dan X sudah bekerja. Baiklah tak masalah buat waktu itu.

Tapi berbeda dengan sekarang. Pasokan uang saya sudah terbatas dari orang tua saya bahkan nyaris diputus. Alasannya sepele saya sudah lulus kuliah dan saya harus cari uang sendiri. Saya pusing sekali. Cari kerja itu enggak semudah cari permen di toko. Hah saya kelimpungan dan saya nggak punya uang.

Beberapa orang teman saya menyarankan untuk meminta kepada si X. “Lumayan uang segitu, bisa buat makan beberapa minggu,” Kata salah satu teman saya. Baiklah dengan segenap hati saya meminta kepada si X.  Dan jawabannya selalu sama, “Bulan depan, bulan depan dan bulan depan!” Bahkan pernah dia malah ngomong gini ke saya, “kalau kamu butuh uang kamu pinjam dulu saja ke teman kamu!”

Glodakk!!! Saya rada tersinggung juga sama ucapannya. La dia yang punya hutang kok malah saya yang suruh pinjam sama teman. Baiklah saya masih bisa menegendalikan hati saya. Hingga akhirnya nomer ponsel dan facebooknya lenyap. Si X hilang tanpa Kabar, berhari-hari dan berminggu - minggu.

Eh, tapi beberapa hari yang lalu saya mendapatkan nomornya dari seorang teman. Aha… nomernya aktif . Saya pun mengirimkan sebuah SMS tidak maksud menagih. Saya Cuma kirim sms “Hy pa kabar?” Dan dia pun membalasnya dengan panjang lebar bahwa dia tidak bermaksud menghilang. Hpnya rusak dan FBnya dinonaktifkan sama pacarnya. Sekarang dia di Surabaya tidak di Malang. Baiklah.  Dan lagi-lagi dia bilang akan membayarnya bulan depan.

Saya sempat cerita sama pacar saya. Dia kesel juga. Kata dia, bukan masalah uangnya tapi kejujuran dan itikad baiknya yang nggak ada, itu yang bikin jengkel.

Dan kemarin pagi saya syok berat menerima SMS dari si X , “Tenang saja  ntar tak bayar, gak akan ngilang kok aku. Gajiku lo lumayan gede. Cuma segitu aja diributkan!”

Dada saya sesak luar biasa. Astaga dia itu teman saya. Selama ini kalau SMS pun saya selalu berusaha memilih kata-kata terbaik buat dia. Tapi menerima SMS seperti itu. Jujur saya sangat sakit hati. Saya sudah mencoba menolongnya, meski saya bukan malaikat. Bukan terimakasih yang saya dapat, malah kata-kata kasar. Hadohh ngelus dada!

Kalau gajinya gede kenapa uang segitu saja jadi beratus–ratus tahun bayarnya. Sumpah saya kesel sekali.  Sekarang saya tahu kenapa saya tidak bisa dekat dengan si X, meski kami kenal sudah berjuta-juta tahun yang lalu. Kenapa tidak bisa sedekat seperti saya dengan Fitri, yang baru saya kenal sewaktu kuliah. Iya  alasannya sederhana, karena Fitri itu lebih berhati dan tahu terimakasih.


Bicara Selalu Lebih Mudah




Kadang saya itu sooookkkk banget. Iya, sok ngasih nasehat dan solusi untuk orang-orang terdekat saya. Sok tegar dan sok bijak. Hadehhhh....

Beberapa teman datang kepada saya lalu keluarlah ribuan curhatan dari bibir mereka. Yeah kebanyakan sih tentang galau karena percintaan. Dan saya pun dengan cepat, berperan sebagai psikiater. Mencoba memeberikan ide-ide cemerlang saya untuk membatu mereka terlepas dari kegalauannya. Sok banget kan saya itu? Hahaha....

Saya itu kadang pengen ketawa dengan semua yang saya lakukan. Yeah... seperti Rina adik kost saya itu. Saat dia patah hati karena cowoknya. Saya memberikan resep-resep mutahir untuk melupakan cowok yang bikin dia sakit. Saat mbak Gita galau dengan pilihannya saya dengan seenak jidat saya minta dia tegas dalam memilih. La emang semudah ituuuuu??? mereka pakek hati. Soal hati ituuu kan emang rada gila biasanya.

Dan... dan.. dan.. pas Rina tengkar dengan cowoknya. Saya pun mengajarinya bagaimana cara untuk berdamai tanpa menjatuhkan harga diri. Hahahaha.... hebat sekali bukan? Tapi oh tapi jika semua itu menimpa saya. Saya kelimpungan setengah mati. Saya jadi galau berhari-hari. Dan semua yang saya katakan pada teman-teman saya itu sama sekali tidak bisa saya praktekan. Hwaaa... itu memalukan sekali.

Ya mungkin begitulah orang lebih mudah ngomong dari pada praktek. Bahkan apa yang kita sarankan kadang nggak mudah untuk kita lakukan.

-yna-
gambar: http://sellawahyu.blogspot.com/2011/12/berbicara-efektif.html


Jumat, 09 Maret 2012

Kotak dan Kunci



Beberapa teman mendepak saya dari facebooknya. Eh bukan ding cuma dua orang saja. Yeah tapi itu cukup banyak buat saya. Apa lagi mengingat kami pernah cukup dekat dulu. Duluuuuu..... duluuuuuuu sekali ratusan tahun yang lalu.

Saya baru ngeh pas ingin tahu kabar mereka. Iya saya cari nama teman saya itu. Tapi oh tapi tidak ada nama mereka. Baiklah mungkin ganti nama, jadi pas saya ketikan nama mereka nggak muncul di facebook saya. Saya mencoba untuk berfikiran positif.

Tapiiiii pas saya buka dengan facebooknya Rina. Ternya nama teman saya itu ada dan tetap seperti dahulu kala. Nggak berubah. Dan saya baru sadar kalau saya ternyata tidak hanya di remove tapi juga diblokir dari facebooknya. Oh... apa salah saya???

Saya sedih. Iya tentu saja. Mereka, teman-teman saya itu memblokir saya. Memblokir itu lebih kejam dari pada sekedar meremove. Saya pun mengorek-ngorek, kesalahan apa yang saya buat hingga mereka dengan sengaja memblokir saya. Mungkin saya bukan teman yang baik buat mereka. Baiklah saya tidak bisa memaksa orang lain untuk suka dan mau berteman dengan saya. Tidak apa-apa. Saya mencoba untuk menenangkan diri. Saya mencoba untuk selalu berfikir positif kepada teman saya itu. Meski jujur saya sangat sedih sekali.

Berhari-hari saya kepikiran.

Tapi eh tapi kenapa saya mesti kepikiran sampai segitunya? Dia memang teman saya. Dia nggak mau temenan sama saya lagi, harusnya bukan masalah yang besar. Toh teman saya bukan cuma mereka. Saya punya teman-teman lain yang masih care dengan saya. Yang masih mau merangkul saya saat saya sedih. Yang masih mau mendengar ocehan saya berjam-jam. Yang masih mau menenangkan saya saat saya galau. Lalu kenapa saya harus sedih ditinggal mereka yang sama sekali tidak sedih untuk meninggalkan saya???

Baiklah. Mereka yang pergi ya pergi saja. Bodo amat! Saya nggak mau peduli lagi. La mereka nggak peduli saya. Lebih baik saya mengerahkan tenaga dan fikiran yang saya miliki untuk teman-teman saya yang lain, yang rela hati selalu bersama saya, yang peduli pada saya. Buang-buang energi sekali kalau saya memikirkan mereka yang telah pergi dari hidup saya.

Pagi tadi saya dapet comen status dari Kiky, dia teman KKN saya dulu. Begini bunyinya, "yg lalu, yg patut dikenang disimpan untuk cerita kelak. Dan yg buruk masukkan kotak, kunci rapat, uncalno nang tengah laut :D"

Hahaha... benar sekali kata Kiky. Dan sepertinya saya harus mencari kotak beserta kuncinya, akan saya masukkan semua kenangan buruk dan semua ingatan saya tentang orang-orang yang melupakan saya. Kemudian akan saya kunci rapat serapat rapatnya dan akan saya buang ke tengah laut. ^_^


-yna-
gambar: http://kiosjadul.blogspot.com/2011/06/gembok-kotak.html

Kamis, 08 Maret 2012

Hidup itu Pilihan



Hari sangat lelah. Inginnya rebahan dengan mata terpejam. Tapi di luar sana ramai sekali tv menyala. Yeah saya tidak bisa terpejam. Baiklah kalau begitu mari kita ngeblog saja.

Setelah tadi menunggu dengan antrian yang lumayan panjang saat sidang dan wara wiri dengan Rina, nyampek kos saya tepar. Tapi tetap saja tidak terpejam. Eh iya, saya akhirnya memilih untuk sidang dan melewatkan intervieu Mandiri. Hidup itu pilihan bukan? Dan saya sudah memilihnya.

Beberapa teman menyayangkan keputusan saya. "Gila itu kesempatan bagus, kenapa nggak intervieu saja?" begitu celetuk mereka. Dan saya sudah bilang tadi. Hidup itu pilihan TITIK! Dan saya sudah memilih. Terserah pilihan saya itu dianggap gila atau seperti apa sama orang lain. Itu hak mereka untuk berkomentar.

Saya masukin lamaran kemarin juga iseng-iseng berhadiah. Sama sekali enggak niat. Eh, malah dapat panggilan. iya saya senang, saya bahagia tapi nggak apa-apakan kalau pada akhirnya saya melewatkannya?

Saya jadi ingat ucapan Fitri kemarin malam. Iya Fitri sahabat saya itu. "Kalau itu memang jalanmu pasti akan dipermudah, tapi kalau tidak ya sudah pasti ada jalan lain yang lebih baik dan bukankah Allah sudah menentukan jalan kita sendiri-sendiri." Begitu kata Fitri.

Iya selalu ada jalan buat kita. Dan satu lagi hidup itu pilihan :)


_yna_


gambar: http://miuasakura.blogspot.com/2011/10/hidup-adalah-pilihan.html

Miss Rempong



Sekarang ini saya sedang super duper galau. Iya saat ini. Saat saya menulis blog ini, saya sedang galau setengah mati. Kalau bukan rempong dan ribet, bukan Erika namanya. Hwaaaa.... saya sendiri heran kenapa saya kek gini >_<

Ok ok.... saya akan menceritakan kronologi kejadiannya, kenapa saya seperti ini. Saya itu tipe orang yang tidak mau merepotkan orang sebenarnya, tidak mau membingungkan orang dengan urusan-urusan pribadi saya. Dan kenyataanya, itu tidak bisa saya lakukan. Tadi sore, saya dapat panggilan intervieu di bank Mandiri bagian teller.

Apa saya tidak senang? Hey saya senang sekali, bahkan kalau bisa saya mau lonjak-lonjak kegirangan.Tapi eh tapi semua berubah saat penelfon itu memberitahukan tempat intervieunya. Di Surabaya.

Yeah, kalian yang tahu sekarang saya di Malang dan dekat sekali dengan Surabaya. Pasti berfikiran, "Halah, Surabaya situ aja!" Tapi tidak dengan saya. Saya buta dengan Surabaya. Saya tidak faham seluk beluk kota Surabaya. Haduh jangankan seluk beluknya, harus kek apa ke Surabaya saja saya bingung.

Saya tahu kalian pasti mencibir saya, atau mungkin menopok jidat di kepala masing-masing. Iya saya itu terlalu. Saya itu enggak paham jalan. Saya itu memang parah sekali. Dari Malang ke Surabaya saja bingung, bagaimana nanti kalau mencari alamat tempat intervieu. Hadahhhh.....

Dan dan dan saya tidak akan sebingung ini mungkin kalau ada mas Anto. Saya akan dengan sangat mudah minta antar dia ke Surabaya. Mas Anto itu paham sekali soal jalan. Tapi oh tapi mas Anto sedang di Banyuwangi saat ini. Mau tak mau saya harus melakukannya sendiri. Dan hanya ada satu harapan saya. Rina. Iya adik kos saya yang satu itu paham sekali soal Surabaya. Dulu dia sering wara wiri Malang-Surabaya.

Tapi apa dia mau nanti? Belum lagi saya juga harus merepotkan pacarnya untuk sidang di pengadilan karena saya kena tilang kemarin itu. Apa dia mau nanti? Hadeh... saya jadi rempong, saya jadi ngerepotin banyak orang. Mungkin kalian berfikir saya ini keterlaluan. Iya baiklah saya itu memang sangat amat keterlaluan >_<

_yna_


gambar: http://flyingwithme.wordpress.com/2010/01/29/halah-mbak-ribet-ngomong-sama-kamu/

Rabu, 07 Maret 2012

Andai Saja Kita Tahu


Siapa sih yang bakal tahu umur kita sampai kapan? Siapa yang bisa njamin kita bisa berumur panjang? Tidak ada yang tahu. Mati itu pasti dan kita tidak pernah tahu berapa dekat kematian itu akan menjemput kita.

Beberapa hari ini saya dikejutkan dengan kabar-kabar yang cukup mengejutkan. Apalah yang paling mengejutkan selain kabar seseorang yang telah berpulang. Kabar seseorang yang dulu pernah kita lihat dan untuk selamanya tidak bisa kita lihat lagi. Yeah... Begitulah setiap yang bernyawa pasti akan pergi. Tapi tetap saja itu menyedihkan.

Beberapa hari yang lalu Bapak mengabari saya, lek Mut tetangga samping rumah saya telah berpulang. Saya syok, lek Mut itu tetangga saya yang baik. Dia selalu menyapa jika saya pulang ke rumah. Dia ramah sekali. Dan ketika saya pulang dulu, lek Mut terlihat baik-baik saja tapi sekarang telah berpulang. Lek Mut itu masih muda, anak tertuanya seusia saya dan anak keduanya masih SD.

Dan sekarang ini, teman Rina (adik kos saya) juga telah berpulang. Yeah dia masih muda. Mungkin usianya masih 22-an. Saya melihat raut kesedihan dari Rina. Mereka berdua dulu teman dekat, namun karena ada konflik diantara mereka, mereka menjadi renggang bahkan tidak saling menyapa.  Saya yakin Rina sangat menyesal, andai dia tahu temannya akan berpulang secepat ini pasti akan selalu ada maaf.

Hmmm..... ya...ya... begitulah. Penyesalan selalu datang belakangan. Andai kita tahu seseorang itu akan pergi saya yakin kita akan berbuat baik padanya. Selalu ada kata maaf dan tak akan ada dendam. Dan kematian itu tidak hanya untuk mereka, kita semua akan mengalaminya. Lalu....apa yang telah kita siapkan andai ajal itu menjemput kita sekarang? sudah siapkah kita?

_yna_

gambar: http://helmimediadakwah.blogspot.com/2011/10/tanda-tanda-sebelum-ajal-menjemput.html